Jumat, 14 Desember 2007

IMAJINASI: KEMBARA DI DUNIA SASTRA

Imajinasi adalah sesuatu yang tidak ada,

kemudian menjadi ada dalam pikiran saya.

(Budi Darma, “Mulai dari Tengah”)

Pendahuluan

Sebagai anak desa dari salah satu kota kabupaten kecil di Jawa Tengah, pada awal dasa warsa 70-an, tepatnya 1972, saya selalu menyongsong kehadiran pelajaran Bahasa Indonesia di SMP tempat saya belajar dengan kegembiraan. Mengapa? Dalam pelajaran itu saya akan mendengarkan cerita Layar Terkembang, dan novel lainnya dari guru bahasa. Kadang kala saya (dan barangkali teman-teman juga) dibuat penasaran karena ceritanya dipenggal alias tak diselesaikan pada jam pelajaran itu, sehingga saya harus menantikan sambungan ceritanya pada pelajaran hari lain. Mengapa saya menantikannya dan menyongsongnya dengan kegembiraan? Dari cerita guru tersebut saya “diajak mengembara ke kota Jakarta dengan sepeda bersama Tutik dan Maria melihat-lihat akuarium di Pasar Ikan”, yang notabene bagi anak desa Jakarta jauh dari pengenalannya.1)

Sesungguhnya, jauh sebelum itu, yaitu tatkala belum masuk SD, nenek saya suka mendongeng pada kami (saya dan kakak-adik). Dari dongeng nenek itu, saya telah diajak mengembara Bawang Putih menelusuri sungai menanyakan ‘popok dan beruk’ yang hanyut. Lewat dongeng nenek itu juga saya diajak mengembara bersama para Kleting menyeberangi sungai dengan pertolongan Yuyu Kakang. Lewat dongeng nenek juga saya diajak mengembara ke ladang Enthit menyaksikan kesuburan tanaman, dan kelebatan buah-buahnya.

Kemudian, lewat cerpen ‘Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?” saya diajak Hamsad Rangkuti untuk mengembara ke tengah laut bersama seorang gadis yang dirundung masalah dengan kekasihnya, dan kemudian hendak menceburkan diri ke laut. Atau ketika saya membaca sajak Sapardi Djoko Damono “Gerimis Kecil di Jalan Jakarta, Malang” mau tidak mau suka atau tidak suka saya diajak mengembara ke Jalan Jakarta di Kota Malang itu, walaupun sesungguhnya larik-larik sajaknya tidak melukiskan gambaran fisik jalan itu.

Refleksi atas pengalaman itu semua yang mengantar tulisan ini hendak memumpunkan bahasannya pada imajinasi, khususnya dalam hubungannya dengan karya sastra baik dari perpektif penciptaan maupun penikmatan karya sastra, serta implikasinya dalam pembelajaran sastra di sekolah. Karena imajinasilah Sutan Takdir Alisjahbana menciptakan Layar Terkembang, dan Hamsad Rangkuti menciptakan “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?”, Sapardi Djoko Damono menciptakan “Gerimis Kecil di Jalan Jakarta, Malang”. Oleh karena imajinasi juga saya dapat ‘mengetahui’ Jakarta pada saat itu, ‘ikut mencari’ popok dan beruk Bawang Putih yang hanyut di sungai, ‘menyeberangi sungai’ bersama Kleting bersaudara, dan juga ‘menyaksikan’ keganasan laut sekaligus ‘merasakan’ kesedihan gadis rekaan Hamzad Rangkuti, ataupun ‘berjalan-jalan’ di jalan Jakarta, Malang bersama Sapardi Djoko Damono. Oleh sebab imajinasi juga, guru dan nenek saya dapat bercerita dengan menarik (setidak-tidaknya untuk saya) atas novel yang pernah dibacanya atau dongeng yang dikenalnya.

1. Imajinasi

Andaikata Alexander Graham Bell tidak memiliki imajinasi setelah melihat cara orang mengirimkan telegram, fonoautograf yang menjadi embrio telepon tidak atau belum2) tercipta pada 1876. Begitupun, andaikata Thomas Alfa Edison tidak memiliki imajinasi, pada 1878 bola lampu pijar barangkali belum tercipta. Demikianpun, andaikata James Watt tidak memiliki imajinasi, kemungkinan kondensor belum ditemukan pada 1765, dan mesin uap hemat bahan bakar belum ditemukan pada 1766. Begitulah, daftar pengandaikataan inipun dapat diperpanjang.

Dalam dunia sastra, sebagaimana telah diintroduksi di muka, imajinasi tidak dapat dipisahkan dari penciptaan ataupun penikmatan karya sastra. Meskipun bukan satu-satunya modal, imajinasi diakui oleh Budi Darma sebagai salah satu modal kepengarangannya, walaupun imajinasi itu juga sering menyiksa, menakutkan.3) Imajinasi, menurut Umar Junus, membebaskan karya dari keterikatannya dengan suatu peristiwa. Artinya makin rendah kadar imajinasinya, makin dekat hubungannya dengan peristiwa konkret.4) Begitupun seorang pembaca sastra harus memiliki imajinasi agar dapat memasuki dunia baru yang diciptakan pengarang yang (kadang) berbeda dengan dunia yang diketahui sebelumnya.5)

Lalu, apakah imajinasi itu sehingga ia menelusup ke mana-mana (dunia ilmu dan teknologi, teristimewa dunia sastra)? Makhluk macam apakah ia sehingga ia tidak hanya menyertai para seniman, tetapi senantiasa pula menyertai ilmuwan? Siapakah ia sehingga dengan hiperbolis Tedjoworo menyebutkan bahwa iklan, poster, pajangan billboard di jalan-jalan, tayangan di televisi, hompage di internet merupakan “Kerajaan Imajinasi”?6)

Secara umum, imajinasi adalah daya untuk membentuk gambaran (imaji), citraan, atau konsep-konsep mental yang tidak secara langsung didapatkan dari pengindraan. Ada beberapa anasir imajinasi yang perlu diperbicangkan lebih mendalam. Pertama, imajinasi itu adalah daya atau kekuatan. Sebagai daya atau kekuatan, imajinasi hanya dimiliki oleh manusia. Mengapa demikian? Karena imajinasi berhubungan dengan pikir dan bahasa, dan sebagaimana menjadi pengetahuan umum, hanya manusialah yang memiliki pikir dan bahasa itu. Meski pikir dan bahasa itu universal, namun penggunaan pikir dan bahasa oleh manusia yang satu dengan manusia lain itu berbeda-beda atau bersifat individual. Oleh karena itu, imajinasipun bersifat individual, unik, dan khas. Sama-sama sastrawan, belum tentu sama imajinasi yang dimilikinya.

Kedua, imajinasi itu untuk membentuk gambaran, citraan, konsep atau imaji. Hal itu berarti imajinasi selalu merupakan proses, dan bereksistensi sebagai proses. Dengan kata lain imajinasi itu activus, yaitu berada jika beraktivitas. Ketika manusia si empunya imajinasi tidak menggunakan daya atau kekuatan untuk membentuk gambaran, imajinasi tidak berada (tidak berarti tidak ada). Proses dalam imajinasi dimaksudkan untuk membentuk gambaran, citraan, konsep, atau imaji. Oleh sebab gambaran, citraan, konsep, atau imaji itu tidak berada secara fisis, melainkan secara psikis mental, demikianpun proses imajinasi itu merupakan proses mental.

Ketiga, konsep mental sebagai produk imajinasi tidak secara langsung diperoleh dari pengindraan. Hal itu tidak berarti imajinasi tidak memerlukan pengalaman indrawi, justru pengalaman indrawi diperlukan kehadirannya sebagai semacam batu loncatan untuk memasuki pintu imajinasi. Akan tetapi jika hanya berhenti pada pengalaman indrawi, dan tidak meloncat masuk proses penciptaan imaji, maka hal itu jelas bukan imajinasi. Pengalaman indrawi Graham Bell melihat pengiriman telegram mengantarkannya memasuki proses imajinasi untuk mengirim suara lewat getaran-getaran elektronik. Pengalaman Hamsad Rangkuti melihat gadis berdiri di atas geladak tatkala mengunjungi daerah transmigrasi di Lampung, mengantarkannya ke imajinasi gadis dirundung asmara yang hendak bunuh diri dengan mencebur ke laut. Itulah imajinasi, selangkah (atau beberapa langkah) lebih masuk (baca: intens, mendalam) daripada empiri indrawi.

Dalam hal yang terakhir itulah, imajinasi berbeda dengan fantasi. Fantasi adalah daya untuk membayangkan sesuatu, khususnya untuk hal yang tidak real atau tidak mungkin terjadi. Fantasi itu mirip dengan khayalan, sehingga bayangan yang dihasilkannya tidak mungkin ada dan memang tidak ada dalam kenyataan. Dalam kontras dengan fantasi ini, imajinasi memperoleh karakteristiknya sebagai daya yang membentuk gambaran objek yang mungkin dapat ada atau logis real. Pendaratan manusia di bulan adalah produk imajinasi, bukan hasil fantasi, tetapi si pungguk merindukan bulan adalah fantasi.

Sartre, sebagaimana pandangannya diringkas oleh Tedjoworo7), menerangkan bahwa imaji (gambaran) lebih merupakan tindakan (baca: hasil menindak)8) dari kesadaran daripada benda dalam kesadaran. Dengan demikian imajinasi sebagai proses penindakan merupakan aktivitas produktif yang mengintensikan objek dengan cara tertentu. Dengan demikian imaji itu bersifat kuasi-observasi, yaitu mengobjekkan yang dimajinasikan seolah-olah real. Akhirnya, imaji itu spontanitas, yaitu secara serta merta tercipta dengan sendirinya. Imajinasi itu tiba-tiba datang dengan sendirinya tanpa diundang. Kalaupun dianggap sebagai undangan, pengalaman indrawi yang terjadi saat itulah yang menjadi pengundangnya.

2. Imajinasi dalam Proses Kreatif

Diakui atau tidak diakui, tidak seorang sastrawan manapun yang mencipta karyanya tanpa imajinasi. Semua karya sastra diciptakan oleh pengarangnya dalam proses kreatifnya dengan menggunakan imajinasi, meskipun imajinasi bukan satu-satunya yang menentukan proses kreatif tersebut. Suatu karya yang diciptakan melalui proses imajinasi yang intensif pasti akan berbeda dengan karya lain yang diciptakan tanpa melalui imajinasi, atau dengan imajinasi tetapi tidak begitu intensif.9) Dengan demikian, intensitas imajinasi berkorelasi dengan bobot karya, bahkan menentukan apakah karya itu layak disebut sebagai sastra atau nonsastra.

Yang harus diakui adalah imajinasi sastrawan yang satu dengan sastrawan yang lain, seperti telah dikemukakan sebelumnya, tidaklah sama. Ketidaksamaan itu dapat pada intensitasnya, ataupun pada gambaran atau citraan yang dihasilkannya. Pengalaman indrawi di seputar pemberontakan PKI, dan upaya penumpasan gerakan tersebut oleh TNI pada 1965-an telah memunculkan beberapa karya yang beragam, sebagaimana sebagian di antaranya dihimpun Ajip Rosidi dalam Langit Biru Laut Biru (1977).10) Di hadapan imajinasi Umar Kayam, realitas itu melahirkan cerpen “Bawuk”, akan tetapi di hadapan imajinasi Abdul Hadi WM realitas yang sama melahirkan kumpulan puisi “Riwayat”.

Dalam proses kreatif, imajinasi pergi ke mana-mana semau dia suka. Salahkah imajinasi, jika oleh pengalaman di kereta api sekonyong-konyong melihat pesawat terbang, padahal jelas-jelas tidak ada pesawat terbang? Tentu saja tidak! Salahkah imajinasi, jika kemudian pesawat terbang ‘semu’ itu muncul dalam cerpen “Dua Laki-laki”11), dan bukan dalam puisi misalnya? Tentu saja, tidak salah juga! Imajinasi adalah kembara, pergi ke mana-mana sesuai dengan yang disuka. Imajinasi itu liar, bagai binatang jalang.

3. Imajinasi dalam Proses Reseptif

Resepsi sastra adalah bagaimana pembaca memberikan makna terhadap karya sastra yang dibacanya (atau didengarnya), sehingga dapat memberikan reaksi atau tanggapan terhadapnya12) Oleh karena itu, kegiatan resepsi dapat berupa penikmatan atau apresiasi, tetapi dapat juga berupa penilaian atau kritik. Apresiasi sastra cenderung untuk menghargai karya sastra, menerima suatu objek sebagai sesuatu yang baik, sedangkan kritik sastra berusaha untuk melihat kelemahan-kelemahan karya sastra. Hal itu dilakukan, karena kritik sastra bertujuan mencari kebenaran nilai-nilai sastra, sedangkan apresiasi sastra cenderung menerima nilai-nilai sastra sebagai sesuatu yang benar.13)

Dengan apa pemaknaan atas karya sastra dalam resepsi sastra dapat dilakukan? Salah satunya, pasti dengan imajinasi. Hal itu berarti bahwa tanpa imajinasi, peresepsi sastra (entah itu apresiator entah itu kritikus) tidak dapat memaknai karya sastra yang dibacanya. Proses pemaknaan itu dapat beragam. Pertama, realitas dalam karya sastra disikapi sebagai ‘realitas indrawi’ yang hadir di hadapan peresepsi. Pemaknaan terjadi dengan imajinasi ketika berdasarkan relitas yang ditemukan dalam karya sastra tersebut, peresepsi menghadirkan realitas baru. Jadi realitas dalam sastra pada model pertama ini menjadi batu loncatan memasuki dunia imajinasi yang diciptakan oleh peresepsi itu sendiri. Dalam kemungkinan seperti ini, terjadilah semacam suksesi imajinasi dari penulis ke pembaca sastra.

Apa yang diimajinasikan oleh pembaca? Tidak dapat diduga, dan bersifat individualistik juga. Pembaca dengan imajinasinya bebas untuk menciptakan realitas baru dalam dirinya berdasarkan realitas dalam karya sastra yang dibacanya. Dengan demikian, antara pembaca yang satu dengan yang lain akan terjadi juga perbedaan penikmatannya.

Kemungkinan kedua, proses pemaknaan itu terjadi berkat imajinasi peresepsi atau pembaca sastra dengan mempertemukan realitas dalam karya sastra, yang nota bene jelas-jelas imajinatif, dengan realitas dirinya yang sebenarnya. Dalam model penikmatan ini, imajinasi akan berkelejatan ke sana ke mari semacam mengundang atau mengumpulkan pengalaman real pembaca untuk dipertemukan dengan realitas dalam karya sastra. Jadi, pada penikmatan model ini terjadi dialog antara realitas imajinatif karya sastra dengan pengalaman nyata pembaca.

Perbedaan pemaknaan yang pertama dan kedua dapat diterangkan sebagai berikut. Dalam model pertama, realitas imajinatif sastra hadir sebagai batu loncatan munculnya realitas imajinatif pembaca, sedangkan dalam model kedua realitas imajinatif sastra menghadirkan realitas objektif pembaca, dan kemudian (bisa ya bisa tidak) terjadi dialog antara realitas-realitas tersebut.

Bisa juga, pemaknaan itu hanya berupa pemahaman pembaca atas realitas imajinatif karya sastra sampai pada segala seginya, sehingga dengan imajinasinya pembaca dapat memahami, memafhumi, atau mengetahui realitas baru (bagi dirinya) sebagaimana dihadirkan oleh realitas imajinatif sastra. Dalam model ketiga ini tidak terjadi penghadiran realitas imajinatif ataupun relitas objektif yang dimiliki pembaca. Walaupun demikian tidak dapat dikatakan pembaca pasif dalam hal ini. Tanpa imajinasi, pemaknaan dalam kemungkinan ketiga tidak akan dapat terjadi.

Kembali kita melihat kebebasan, keliaran, kejalangan imajinasi dalam pengambilan posisi atau peran dalam proses resepsi. Memang, dalam model pertama tampak imajinasi pembaca dituntut lebih optimal, asal tidak kebablasan sehingga memasuki wilayah khayalan. Aktivitas imajinasi pembaca pada model kedua tidak sehebat pada model pertama. Di tengah-tengah, begitulah. Sedangkan pada model ketiga imajinasi berperan secara reseptif (yang tidak berarti pasif).

Entah dalam pemaknaan yang pertama, kedua, atau ketiga, hasil proses tersebut adalah menerima nilai-nilai sastra sebagai suatu objek suatu yang benar ataupun sebagai suatu yang baik. Baik manakala sesuai dengan pengalaman imajinatif ataupun pengalaman objektif pembaca, tidak baik jika tidak sesuai dengan pengalaman imajinatif ataupun objektif pembaca. ‘Sesuai’ di sini tidak berarti harus selalu sama atau identik, akan tetapi lebih berarti menyenangkan dan berguna atau dulce et utile.14)

4. Imajinasi dalam Proses Edukatif

Pembelajaran sastra di sekolah bertumpu pada bagaimana siswa dapat berapresiasi sastra dan berekspresi sastra. Sebagaimana telah dibicarakan sebelumnya, apresiasi sastra bermakna penghargaan atau penerimaan karya sastra. Pengarhagaan atau penerimaan tersebut tentu saja didasarkan pada penghayatan atau pemahaman yang dalam prosesnya memerlukan imajinasi sebagai salah satu modalnya.

Ekspresi sastra dapat berupa melisankan hasil sastra (membaca puisi, musikalisasi puisi, membacakan cerpen), mementaskan drama, ataupun menulis karya sastra. Dalam cakupan pembelajaran sastra yang demikian itu, diperlukan guru yang mampu menjadi contoh bagi siswanya. Artinya, guru sastra semestinya juga seorang pembaca sastra, syukur jika ia juga pencipta sastra (walaupun dalam skala kecil).

Mengapa demikian? Karena guru sastra yang adalah juga pembaca sastra atau bahkan pencipta sastra berarti ada keajegan mengasah kepekaaan imajinasinya baik untuk kepentingan apresiasi maupun ekspresi. Pengalaman imajinatif itu, akan membuat pembelajaran sastra yang dikelolanya menarik dan menyenangkan bagi siswanya. Pada gilirannya akan menumbuhkan sikap dan daya apresiatif serta ekspresif pada siswa. Dengan demikian pembelajaran sastra menjadi penyemaian dan penumbuhkembangan imajinasi siswa.

Disadari memang, bahwa terlalu naif untuk memaksudkan pembelajaran yang demikian itu sebagai pencetakan sastrawan. Akan tetapi, jika secara terus-menerus imajinasi siswa diasah lewat pembelajaran sastra, di kelak kemudian hari apapun profesinya, imajinasi tetap akan berguna dalam kehidupannya. Jangan dikira bahwa pemahaman atas beragam materi pada anaka mata pelajaran yang diikutinya tidak berhubungan dengan imajinasi. Tedjoworo menegaskan bahwa imajinasi merupakan akselerator pengetahuan.15)

Ketaktersediaan buku sastra untuk saat ini tampaknya bukan lagi merupakan hambatan yang serius, meskipun harus juga diakui belum mencukupi. Andaikatapun masih belum terlalu berubah seperti kondisi beberapa dasa warsa yang lalu, contoh yang diakukan guru seperti pada awal tulisan ini bisa diadopsi juga. Singkatnya, berkat imajinasi guru, pembelajaran sastra dapat dipastikan potensial memenuhi paradigma pendidikan terbaru, yaitu PAKEMM (Pembelajaran Aktif Kreatif, Efektif, Menyenangkan, dan Mencerahkan).16)

Penutupan

Tulisan ini tidak setitikpun dimaksudkan untuk menciptakan ‘kerajaan imajinasi’ atau bahkan mendewakan imajinasi. Imajinasi bukanlah segala-galanya bagi sastrawan, apresiator, guru, ataupun pendongeng. Akan tetapi harus diakui bahwa andaikata mereka itu tidak memiliki imajinasi, mereka bukanlah sastrawan, dan dengan demikian karya sastra tidak ada atau tidak tercipta, dan guru sastrapun bukan guru sastra, dan pendongengpun bukan pendongeng.

Dengan demikian, imajinasi mengeksistensi semuanya sehingga masing-masing menjadi dirinya. Tanpa imajinasi, manusia bukanlah manusia. Manusia menjadi sama dengan binatang atau bahkan bendawi lainnya. Oleh karena itu, pengasahan imajinasi pembelajar melalui pembelajaran sastra di sekolah tidaklah berlebihan jika dikatakan sebagai proses humanisasi atau pemanusiawian manusia muda. Dalam konteks inilah pembelajran sastra di sekolah, memperoleh urgensinya.



1) Di sekolah kami buku-buku itu tidak tersedia, sehingga kami tidak dapat membacanya. Belakangan setelah saya sebagai mahasiswa, karya-karya itu dapat saya baca sendiri.

2) Kata belum lebih tepat untuk menyatakan penemuan-penemuan di bidang teknologi dalam hubungannya dengan imajinasi.

3)Mulai dari Tengah”, dalam Proses Kreatif, 1982, Jakarta: PT Gramedia, hlm. 125.

4) Umar Junus. 1983.Dari Peristiwa ke Imajinasi. Jakarta: PT Gramedia, hlm. 4.

5) Umar Junus. 1985. Resepsi Sastra. Jakarta: PT Gramedia, hlm. 48.

6) Tedjoworo. 2001. Imaji dan Imajinasi. Yogyakarta: Kanisius, hlm. 18.

7) Ibid. hlm. 36.

8) Bandingkan dengan gagasan hasil menggagas, tulisan hasil menulis!

9)Umar Junus. 1983. op.cit. hlm.6

10) Ajip Rosidi. 1977. Langit Biru Laut Biru. Jakarta: Pustaka Jaya

11) Mulai Dari Tengah”. op.cit.

12) Umar Junus. 1985. op.cit. hlm.1.

13) Budi Darma.1983. Solilokui:Kumpulan Esei Sastra. Jakarta: PT Gramedia, hlm. 57-58.

14) Rene Wellek dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT Gramedia, hlm. 25

15) Tedjoworo, op. cit. hlm.49-53

16) Leo Idra Ardiana. 2004. “Pembelajaran Keterampilan Berbahasa”.

Tidak ada komentar: